Sudah hampir setengah jam aku berdiri di pemberhentian ini hanya untuk menunggunya. beruntung sejuknya udara pagi dengan kicauan burung di atas pohon rindang ini setia menemani setiap aku menunggunya. Selalu berusaha melembutkan suasana hati yang kerap kali merasa kesal dibuatnya. Sesekali mentari tersenyum mengintipku dari celah-celah dedaunan di pohon rindang ini. Entah malu atau mungkin menertawakan aku yang setiap pagi dibikin kesal olehnya. Tapi bagiku dia sudah menjadi pacar keduaku setelah rani gadis cantik dari banjaran di sudut kota kembang sana.















